|
|
 |
Alhamdulillah wa Syukurillah akhirnya punya blog lagi euy.
Kebayang pan gatelnya diriku tanpa si mblog. Emang masih ada si blogdrive ama multiply , tapi blog instant sama sekali tidak memuaskan euy.
Banyak fitur yang berlebih yang sebenarnya gak diperluin. Belon kalo mau ngubah tampilan, lieur.. karena emang ngebongkar kerjaan orang tea.
Terus kalau buatan sendiri enaknya kita tau databasenya dimana. Begitu pindahan kayak sekarang, tinggal bawa tuh lemari, isinya bisa persis sama berikut tanggal dan gambar-gambarnya!
Udah deh asik...
Yap Yatta Yaayayaa, akhirnya... si ezokanzo-ku kembali, bisa aku banget gituw.. bebas!
*lompat girang nih*
Walaupun akhirnya harus bayar, muwahaha...
Susah ternyata emang nyari gratisan yang php, hiks.. yang di webspace itu daku terusir, huaa teaganya.. teganya...
Okeh deh, welcome back blogger fellow, asik kita bisa ber-blogging ria lagi ^ - ^.
Ayo.. ayo... kunjungi kesini
Posted at 6/11/2005 10:56:22 am by ummuthoriq
Permalink
Haloo..halo... lama nian tak di-update nih mblog.
Bentar lagi insya Allah mau pindahan kesini nih.
Ini blog juga lho... tapi dengan CMS buatan sendiri (thank's to Tisha yang udah meluangkan tiap hari minggu-nya buat ngajarin emak-emak ^ - ^).
Bener-bener and bener memuaskan deh.
Hari-hari memusingkan, tegang, mendebarkan, but fun terlewati sudah (eh belum yah) dan akhirnya..akhirnya...
lahirlah EZOKANZO.
Ezokanzo adalah bunga khas daerah Hokkaido Utara, Sarobetsu dst.. Tisha
Juga bunga ini lah yang menemani abi-nya di kala survey wet land ^ - ^
Semoga si ezokanzo gak terlantar kayak blog ini, hehe...
ok, tunggu tanggal mainnya yah... insya Allah (sekarang belum jadi dong)
Posted at 3/22/2005 9:52:32 am by ummuthoriq
Permalink
| |
Tuesday, February 22, 2005 |
Insya Allah akan terbit :

Beli yah.. beli ^ - ^
Posted at 2/22/2005 5:00:50 pm by ummuthoriq
Permalink
| |
Sunday, February 06, 2005 |
Kemaren Aa nyusun puzzle (banyak dibantuin ummi ding, hehe).
Lumayan rumit buat anak-anak, 108 pieces, mungil pula, per pieces-nya 1x1 cm. Sampai Aa bongkok-bongkok deh ngerjaiinya. Bayangin dari sebelum jam 8 malem (gak inget pasnya) sampai 8.46 (kalo ini jelas, abisnya Aa langsung nanya jam ^ - ^).
Alhamdulillah Hasan lagi bobo, jadi proses berjalan lancar. Potong demi potong dirangkai dengan sabar. Kadang-kadang sambil teriak ding. Tapi dasar Thoriq, tahan banget sama pekerjaan rumit gituan :).
 |
Hopla jadi dech... Sayang nih photonya gak bener, kecil dan buram. Aa juga lho yang moto, ceile saking bangganya.
Gambarnya, 14 ekor kelinci yang lagi camping. Ada yang lagi makan, masak, nangkep kupu-kupu, nyuci, jemur juga sembunyi. Gambar batu-batuannya mirip, gambar pohonnya juga nyaris sama. Deuuh pokoknya rumit dech. Ummi ajah yang cuman bantuin mpe belel. Tapi apa daya, kalo meleng bentar ajah si Aa teriak, qeqeqe...
Dan hasil puzzle sekarang masih dirangkai. Kebetulan ngerangkai di atas tatami di kamar. Wah nyaris deh di acak-acak Hasan ^ - ^. Seharian jagain deh |
Posted at 2/6/2005 9:41:28 pm by ummuthoriq
Permalink
Kemaren sore bongkar-bongkar lemari. Eh, nemu baju tidur yang udah lama gak dipakai. Warnanya pink, mhh.. warna yang tak kusukai untuk dijadikan baju. Kenapa? Karena cepat kotor, gak nyaman dipakai di rumah dengan anak dua dan setumpuk eksperimen ^-^. kalau dipakai keluar? No way, hehe.. bukan hanya karena dia baju tidur, tapi warna pink gimana gituh, cerah banget bukan? dan mengundag perhatian. Lagi belajar pake baju yang tak mengundang nih, ehem.. emang bajumu gak nyentrik apa? qeqeqe...
Lanjut.. Nah setelah itu, iseng deh dipake bajunya. Masuk kamar, Thoriq lagi asik maen komputer. Tiba-tiba dia noleh dan bilang dengan keras,
"Astagfirullah hal adzim!" Kontan kaget deh, baru kali ini denger dia istigfar, hehe..
"Napa Aa?" Tanyaku heran
"Ummi pake baju pink kayak perempuan," Katanya polos.
????
Bingung kan? hehe.. SAMA!
Posted at 1/31/2005 5:37:51 pm by ummuthoriq
Permalink
Berpisah Dengan Yang Dicintai

Pengorbanan Hajar telah dicatat sejarah dengan tinta emas. Tanah Haram bukan lagi bukit tandus, Safa Marwa telah menjadi lorong megah. Jutaan orang datang melakukan napak tilas. mengenangnya.
Tanah itu, bangunan itu, bukit itu... selalu mengantar sepoi angin kerinduan, kapankah kami akan kembali mencium wangimu? LABBAIK YA ALLAH...
Genap sepuluh hari kami berada dalam ke-bertigaan, si Abi pergi nun jauh ke New Orleans. Bentangan jarak dua benua telah memisahkan kami. Ada beribu rasa yang terpatri, sedih.. sepi.. hampa.. galau. Entahlah, kenapa rasa kehilangan itu begitu kental pun dirasakan oleh Aa dan Ade. Padahal biasanya Abi juga jarang di rumah, pulang malam bahkan pagi hari :( glek. Tapi mungkin karena yang ini letaknya sangat berjauhan, jadi sangat terasa. Dan ini juga bukan kali pertama Abi pergi lama. Setiap bulan ia ke Sarobetsu untuk beberapa hari, belum lagi tugas survey ke tempat-tempat lain. Setahun sekali ia pulang ke Indonesia tanpa kami (smile, yang terakhir kami malah sukses melewatinya dengan ngungsi ke RS).
Ya, ya.. kepergian kali ini agak istimewa karena kami melewati Idul Adha tanpa dia. Sebuah hari penting bagi ummat Islam. Pergi Id tanpa dia begitu terasa, bukan karena Thoriq dan Hasan, jadi ada di shaff perempuan dan ngerubuti Ummi lho ^ - ^, tapi bedaaa ajah gituh. Jauh dari keluarga merupakan kehilangan tersendiri apalagi suami tak ada, rasa haru begitu menghentak. Teringat keluarga di tanah air, tentu mereka sedang berkumpul ria, motong kambing rame-rame. Mhh.. tapi jika difikir terlalu dalam hanya akan menambah kesedihan. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk mengusir sepi.
Oh ya, setelah Id dapat culikan banyak :), anak-anak Malaysia diboyong, walaupun sebentar saja mampir, Alhamdulillah bisa sedikit menghibur. Terus bu Arifin malah sampai malam, dan si Puputnya malahan nginep. Alhamdulillah ThorHas jadi ada kawan, tak terlalu lah mereka bertanya Abinya. Ummi? Mhh.. tetap pada kegiatan semula, ngutak-ngatik Web, glek (saat itu pas lagi seru-serunya bongkar design rumah cinta). Besoknya kita party, Thoriq Hasan dapat hadiah mobil (ntar deh cerita yang ini, unik hehe).
Tapi tetep ajah Abi tak tergantikan tuh, hari-hari berikutnya Hasan ribut mencari. Mogok makan, nggak bisa tidur, nangis, batuk, kambuh deh :(. Sudah simpai ajah, jangan-jangan kami musti ngungsi lagi ke RS nih. Alhamdulillah seiring waktu Hasan udah mulai biasa, mulai lho.. belum kembali normal :(, tuh anak sensitif banget. Thoriq? Easy going ajah ^ - ^, gak ada Abi hayu ajah.. asik maen game lah, Abi nelepon dia bilang kangeeen, cepet pulang dong ^ - ^ . Mhh.. emosinya stabil tuh anak, Alhamdulillah.
Tapi tetep ajah berpisah dengan yang dicintai itu tak enak, sedih.. sepi.. hampa.. galau.
Bagaimana yah perasaan ibunda Hajar dulu? Ibrahim meninggalkannya di tanah tandus bersama seorang bayi merah hanya dengan bekal sekantung kurma, bukan sehari.. seminggu.. sebulan.. setahun, tapi 13 tahun!
Masya Allah, rasa sedihku takkan terbandingkan. Rasa kehilanganku takkan terbandingkan. Rasa sepi, hampa, galauku tak ada apa-apanya.
Ketika Hajar berlari antara 2 bukit mencari setetes air, Aku hanya tinggal membuka kulkas, trala.. gudang makanan lengkap telah disediakan Abi sebelum pergi.
Ketika Hajar menengok mencari-cari barangkali ada kafilah lewat, tapi tak seorangpun dapat ditemuinya. Aku dengan mudahnya angkat telepon, ketik pesan di YM maka Adila, adikku yang manis si super sibuk akan meluncur hanya untuk mendengarkan setitik gundah saja.
Ketika Hajar berteriak pilu melihat anaknya menangis karena lapar. Aku berteriak marah karena anakku menumpahkan segelas susu di karpet.
13 tahun Hajar sendiri mendekap sepi dan kerinduan. Tapi itu belum cukup, ketika rindu telah membuncah, Ibrahim malah membawa kabar bahwa anaknya diminta untuk dikorbankan. Apa reaksi Hajar? Dia Rela! Tak ada keluh dan tak ada galau yang tampak.
Baru saja 10 hari suamiku pergi, tapi bertumpuk sedih kupupuk, tidakkah aku belajar?
Ibrahim telah meninggalkan Hajar dan Anaknya di tanah tandus tanpa sesiapa dan bekal selain Allah. Pak Iqbal telah meninggalkan istri dan anak-anaknya di tanah bersalju dekat pasar dengan setumpuk bekal dan uang. Sesuatu yang tak dapat diperbandingkan.
Jadi mengapa aku masih mengeluh, masih merasa sepi dan kehilangan?
Wahai Ummi! Engkau menginginkan anakmu sekualitas Ismail
Engkau dambakan harumnya syurga yang dijanjikan pada Hajar.
Engkau rindukan rumahmu sesuci tanah Haram.
Sudahkah engkau belajar?
Sudahkah engkau berkorban?
" Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. " (At- TAubah:24)
#Ditulis untuk lomba entry blog, menemani tulisan indahnya Kang Gaw, nu tetep sederhana, teu sebanding deui ieu mah ^ - ^ #
Posted at 1/30/2005 6:42:37 am by ummuthoriq
Permalink

Thoriq 5 bulan |
Hasan 3 bulan |
Mirip nggak nih?
mhhh.. Hasan lebih endut dari Thoriq memang ^ - ^, wajah Thoriq baby face sampai sekarang, Hasan gak keliatan bayinya, hihi...
Mhh.. ada fenomena menarik tentang ngintil ini. Maksudnya adalah tingkat kemanjaan dan kelekatan si jundi terhadap ummi.
Seperti umumnya bayi, semakin besar maka dia semakin mandiri dan berkurang kemanjaannya. Tapi teori itu tidak berlaku bagi Hasan :).
Thoriq:
Waktu bayi Thoriq manja banget . 3 bulan pertama dihabiskan buat menangis, ummi nyaris gak bisa bergerak, Thoriq ngintiiiil terus. Begitupula bulan-bulan selanjutnya relatif lebih rewel dari bayi-bayi lainnya. Sampai-sampai tetangga di bawah (Mbak Tanti, i miss you so much) hapal betul dengan suara tangisan Thoriq. Yup udah sering, keras pula tangisnya :(. Dia bakalan anteng kalau maen sama Pipit, huaa jadi hari-hari nongkrong terus di rumah mbak Tanti. Heran deh tuh anak, makan juga musti disuapin dan masakan budenya, glek.
Tapi episode ngintil ini tiba-tiba berhenti ketika ia berumur 8 bulan-an. Tiba-tiba saja dia anteng banget, mungkin karena sudah bisa duduk yah :). Waktu itu pak Hari (suaminya mbak Tanti, ayah Pipit) sedang ke Indonesia, pas kembali heran lihat Thoriq. Hehe.. gimana gak heran, Thoriq udah gak kedengeran nangis-nangis.
Mhh.. mungkin persiapan juga sih dia, siap-siap mau punya ade..hihi. Tak berapa lama ternyata ummi hamil Hasan, alhamdulillah. Thoriq senang bakal punya ade, dia jadi anak yang baeeek banget. Kedewasaannya muncul, bener-bener dewasa dan mandiri. Apalagi setelah adenya lahir, dia bnayak bantu pekerjaaan rumah, hehe.. kecil-kecil sudah bantu masak lho, ngupasin bawang, ngambilin bahan-bahan di kulkas :)
Dan yang melegakan Thoriq sudah tidak nangis-nangis.
Hasan:
waktu bayi Hasan adalah bayi ajaib, karena tidak pernah nangis, hehe.. hiperbolik amat yah. Pernah sih nangis tapi jaraaang banget apalagi jika dibandingkan dengan intensitas Thoriq seumuran dia. Masa-masa melegakan saat itu, Thoriq sudah tak nangisan dan Hasan juga anteng banget :). Ngebayangin juga gimana nanti Hasan kalau sudah besar, tentu lebih baik dari Thoriq, hihi mustinya teorinya gituh yah.. makin dewasa.
Tapi ternyata keantengan Hasan tak berlangsung terus. Umur satu tahun Hasan mulai ketauan asma, hari-hari di RS mulai mewarnai. Makanya Hasan dilarang capek, gak boleh kedinginan, nggak boleh makan manis..wah sederet deh larangan-larangan. Makanya Hasan dijagain bak telor, makanya Hasan jadi manja. Episode ngintil Hasan ternyata berlangsung sekarang :(
Episode ngintil anak yang sudah besar ternyata lebih melelahkan. Udah banyak maunya dan berat. Deuh Hasan yang endut itu kemana-mana ngintil, glek.
Tapi yah Alhamdulillah, jadi sumber inspirasi.. tulisan-tulian ummi banyak keluar ketika sambil gendong Hasan. Hehe... mungkin karena Hasan berfungsi sebagai paku yang menancapkan ummi di kursi depan kokom. Hasan pula yang bikin orang serumah hibernasi kayak marmot ^-^.
Ya..ya.. musim salju gini, mana tahan dinginnya buat Hasan, glek.. rumahku istanaku :)
jadi ngambil kesimpulan, episode ngintil itu bisa diatur, tergantung perlakuan kita terhadap anak, tul gak sih?
Posted at 1/24/2005 10:26:43 am by ummuthoriq
Permalink
| |
Saturday, January 15, 2005 |
Fiksi: Senja Yang Tenggelam

MissVictoria telahpun membuang sauh, langkah-langkah gemulai itu berlari menuju pangkuan samudera gagah. Seiring mengecilnya sebuah sosok di ujung pelabuhan yang melambai-lambaikan tangan. Sosok itu menghilang di tengah gedebur ombak Laut Jepang yang memisahkan Honshu-Hokkaido. Tapi bayangannya masih menari-nari di pelupuk mata Senja. Sosok yang namanya memenuhi diary merah mudanya, sosok yang entah darimana dikirim tiba-tiba menjelma menjadi pengisi hari tuanya.
Tua? betulkah ia sudah tua?
“Tidak Senja, engkau masih muda.. apalah arti usia, hanyalah hitungan angka,” Jawab lelaki itu tegas ketika Senja menyatakan kegalauan hatinya.
Ah, Ramlan mengapa engkau memilih aku? Wanita berusia 40 tahun yang sudah melupakan impian pengantin. Mengapa? Mengapa? Bukankah engkau masih muda? Usia 30 tahun bagi seorang lelaki adalah usia paling matang, apalagi engkau kandidat Doktor dari Universitas ternama di Jepang ini. Tidakkah kau ingin memetik daun muda yang menari-nari elok menyapa keperjakaanmu.
"Tidak Senja, aku hanya ingin cinta sejati dari seorang wanita setia yang tidak memandang ornamenku… aku butuh cinta abadi yang tak lekang dimakan waktu,” Ahhh.. lagi-lagi Ramlan mematahkan argumen Senja.
“Tapi aku sudah tidak pantas menjadi pengantin,” Suara Senja semakin serak.
“Senja, bukankah ibunda Khadijah masih menikah di usia 40?”
"Aku bukan dia Ramlan,“ Bantah Senja tangkas.
“Dan Aku bukan Muhammad,“ Ramlan tak kalah tangkas.
“Aku hanyalah seorang Ramlan yang bermimpi meminang bidadari cantik sepertimu,” Kali ini suara Ramlan bergetar penuh harap.
“Tapi aku tidak cantik,” Getir bibir Senja mengucapkan kata itu, setetes darah menetes, bibirnya jadi korban pelampiasan gemuruh jiwa.
“Senja, kamu cantik deh”
“Suit..suit… awas Senja lewat”
“Mau gak jadian ama aku?”
…. Ah entah udah berapa ratus sapaan sejenis menghampiri Senja muda. Senja muda hanya menanggapi dengan senyum genitnya. Merasa cantik, merasa jadi kembang telah melambungkan jiwanya. Hari penuh hura-hura telah dijalaninya sejak masih sekolah menengah. Mall, diskotek, bar telah menjadi tempat-tempat yang akrab buat dirinya.
Anak cerdas itu telah tenggelam dalam kesenangan semu melupakan hakikat dunia nyata. Gagal UMPTN tidak membuatnya frustasi, malah ia bahagia karena artinya lebih bebas. Tawaran sekolah swasta ia tolak dengan alasan ingin istirahat dulu, mau belajar sungguh-sungguh untuk ikut UMPTN tahun depan. Huh, Senja.. mulut manismu memang pandai mengecohkan orang tuamu yang sudah sangat tua itu. Teganya engkau berbohong pada orang yang sangat menyayangimu. Satu-satunya putri mereka, putri yang didamba-damba setelah berumahtangga 15 tahun. Ya, orangtuamu seperti mendapat keajaiban setelah tak putus berdoa dan usaha selama 15 tahun untuk mendapatkan seorang Senja. Senja yang diharap sebagai penghias hari senja mereka. Tidakkah engkau ingin membahagiakan mereka?
Ya..ya.. Senja telah mampu membahagiakan orangtuanya dengan tipu muslihat. Anak manis yang cantik, anak penurut, tak pulang larut malam tapi kabur lewat jendela setelah tengah malam! Bangun paling pagi karena sebenarnya belum tidur, huh Senja!
Setahun, bahkan sampai tahun ke-2 engkau tetap gagal UMPTN.. semakin binal dan melupakan harapan orang tuamu.
Sampai sebuah petir menyambar rumah tentrammu, engkau hamil 3 bulan! Kaupun lari dari rumah mengejar bayangan pacarmu yang menghilang dalam pekat bimbang. Ibumu kena stroke dan meninggal setelah badai itu. Ayahmu merana dalam sepi dan luka. Langkahmu sudah tidak gemulai lagi, kakimu terseok-seok menahan beban di perut yang makin membesar. Untunglah seorang kawan lama ikhlas membuka pintu, kawan yang sering kau cerca karena tidak modis.
Sholilah, gadis berjilbab lebar telah menjadi pahlawanmu. Perlahan kau tata hidup yang telah hancur berkeping. Rekatan-rekatan telah kau bina walaupun yakin takkan kembali utuh. Senja muda menjelma menjadi muslimah dewasa. Tangismu telah berubah menjadi dzikir taubat. Jeritanmu kau hantar di malam penuh tilawah. Sayang, putra pertamamu telah diambil oleh-Nya sejak kau lahirkan. Penyesalan dan kesedihan terdalam yang engkau rasakan. Di saat bulir-bulir kasih telah siap menanti , di saat ketegaran jiwa telah kau tata, dia tak mau diraba.
“Sholih, apakah aku terlalu kotor untuk menimang anakku? Semarah itukah Allah padaku?” Keluhmu di suatu pagi, sebulan setelah penguburan anakmu.
“Astagfirullah, Senja.. jangan berburuk sangka, mungkin ini yang terbaik yang telah Allah berikan padamu.”
“Ini jalan engkau bangkit lagi, sahabat... tanpa anak kamu akan bisa kuliah lagi.” Senyum Sholihah mengembang menegarkan jiwanya.
“Ah, tak mungkin...” Senja menggeleng ragu.
“Apa yang tak mungkin, Senja.. engkau masih muda, terlambat tiga empat tahun takkan berarti buat orang secerdasmu.”
“Jangan ragu, ayahku telah setuju membiayaimu.” Sholihah begitu mantap berargumen.
Ah, Nikmat apalagi yang tidak engkau syukuri Senja, beruntung bertemu keluarga Sholihah yang baik hati. Gulungan masa lalu kau simpan rapi, tekadmu telah bulat menyongsong masa depan. Lima tahun engkau berenang di kampus Jogja, menorehkan secarik kertas tanda kelulusan yang akan kau hadiahkan pada ayahmu. Sayang, lelaki malang itu telah tiada ketika kau kembali dengan sejuta maaf dan bukti. Bara sesal kembali menggarang dada mengepulkan asap hitam dan jelaga yang tak mungkin hilang di jiwa.
“Sholih, aku akan bekerja di Jepang, ada kontrak lima tahun..” Kau hantar berita itu ketika sesegukan di pangkuan Sholihah.
“Heh, sejauh itu dan selama itukah?”
“Ya, aku ingin menjauh, semoga disana aku dapat sedikit melupakan masa laluku.” Senja memberi alasan yang sebenarnya tidak logis, lari dari kenyataan!
“Terserah kamulah, tapi fikirkan juga masa depanmu,” Sholihah hanya melenguh panjang meratapi nasib getir kawannya.
“Masa depan apa yang terhampar bagi orang sepertiku?”
“Apakah kamu tidak ingin menikah, punya anak sepertiku Senja? Lihat bayiku ini lucu bukan?” Sholihah malah menggoda sambil menimang-nimang anaknya yang baru lahir.
“Ha..ha..ha...” Senja malah tertawa lepas, tawa yang mengandung luka
Ternyata Senja tidak hanya lima tahun mengubur diri, tapi tahun berikutnya masih berlanjut.. tahun berikutnya.. sampai 13 tahun sudah dia tenggelam dalam asa tak berujung di negeri Sakura.
“Aku sudah betah disana Sholih, Jepang telah menjadi tanah airku,” Jawabmu ketika Sholihah bertanya kapan kau kembali.
“Tapi kami rindu kamu, ayah, ibu, adik-adik.. bahkan seluruh keluarga besar, mereka bertanya kapan kau kembali,” Entah berapa ratus kali Sholihah merayu Senja.
“Bukankah aku pulang setiap tahun, he..he.he.., ini sekarang aku disini kok masih bertanya,” Senja bercanda sambil menimang-nimang putri ke-4 Sholihah.
“Ini kontrakmu ke-3 bukan? Tinggal dua tahun lagi Senja.. janganlah kau perpanjang lagi,” Setengah harap Sholihah lagi-lagi berkata.
“Anakmu cantik... ih gemas aku,” Senja malah mengalihkan pembicaraan, menutup gedebur rindu kehangatan keluarga ini.
“Senja, Ayah dan Ramlan ingin ketemu.. mereka menunggu di ruang tengah,” Pelan Sholihah berbisik, ada getar aneh di kalimatnya.
“Ramlan.. Ramlan adik bungsu kita? Katanya kan di Tokyo,” Senja melonjak kaget, baginya Ramlan sudah seperti adik sendiri, tapi bertahun-tahun sudah ia tak berjumpa karena jadwal pulang mereka selalu berbeda.
“Tidak.. tidak… engkau adikku, tak mungkin,” Setengah berteriak Senja berkata, sesaat setelah Ramlan mengajukan lamaran.
“Kalian bukan saudara sedarah, Senja, halal..” Wajah bijak Ayah Sholihah telah meredam kepanikannya.
“Aku menikahimu bukan karena kasihan, tapi aku mencintaimu karena Allah,”
“Aku tidak melihat masa lalumu, yang kita hadapi sekarang adalah masa depan, masa depan kita,” Tegas Ramlan mengusir galau hatinya.
Ah, Ramlan... anak kecil yang dulu pakai celana pendek biru menenteng tas besar dan bola. Anak kecil yang merengek minta dikerjain peer. Tak disangka dialah yang dihantar menjadi pendamping hidup Senja. Habis sudah pertanyaan-pertanyaan Senja tentang alur hidupnya yang penuh liku, tak mungkinlah ia menikah dengan Ramlan ketika masih kepala dua seperti Sholihah.
Mentari telah beranjak ke peraduan, langit Hokkaido sangat indah bagi Senja senja ini. Senja telah tenggelam, tapi sepi tak lagi mendekap...
Posted at 1/15/2005 11:59:35 am by ummuthoriq
Permalink
Ternyata Thoriq dan Hasan walaupun ade kakak, walaupun kompak dan akur ada banyak perbedaan, salah satunya posisi tidur :)
Ini bukan fiksi lho, hehe... tapi fenomena sehari-hari...
Thoriq:
Sebelum tidur dia bakalan meriksa gorden, mastiin apa bener-bener udah tertutup.
Nata bantal-bantal penghalang di sekitar tembok (dia selalu milih tidur dekat tembok bawah jendela)
Nepuk bantal kesayangan yang berwarna hijau
Gelar selimut pinknya dengan posisi sedemikian yaitu nama toriku ada di depan atas
Trus dia masuk perlahan, sehingga tataannya gak rusak
Baca doa
Ngobrol sana-sini sebentaaar
Dalam hitungan detik dah mendengkur, tidur lelap banget
Bangun: udah gak di atas bantal hijau, udah gak dekat tembok bawah jendela, selimut pink sudah terlempar jauh
Hasan:
Tidur nggak liat-liat dulu asal nyosor
Paling suka narik selimut begitu ajah nutupin muka, gak peduli berapa lapis atau untel-untelan ataupun kakinya gak ketutup (Thoriq paling cerewet soal ini, dia suka maksa Hasan pake selimut pink yang ada nama Hasan)
Posisi favorit adalah tengkurep nyungsep, kaki ditekuk, muka ngadep bantal kayak sujud deh :)
Tapi sampe lamaaa kagak tidur-tidur, cuman goyang-goyang ajah, garuk-garuk kepala lah, kaki
Akhirnya ribut, minta pijit, usap, kelon, glek
Bangun: masih posisi sujud dengan selimut lengkap nutupin kepala ^ - ^
Ung, mungkin sebentar lagi Thoriq bakalan bilang:
"Apa kata Aa juga, persiapan itu penting!"
Hehe.... just intermezo, kali ajah mereka inget ntar kalau udah gede, bahwa ritual tidurpun ternyata heboh.
Oh ya, kalau tidur siang lain lagi.
Thoriq tuh paling doyan makan coklat, tapi berhubung Hasan alergi makanan manis, maka dia harus menahan keinginan itu.
Alhamdulillah anaknya taat aturan, diapun menanti saat-saat Hasan tidur saja untuk makan coklat.
Kesibukan baru terjadi di jam tidur siang. Thoriq sangat antusias membuat Hasan tidur :)
"Ade, bobo De..." Katanya lembut
Tak lama iapun menatakan tempat tidur untuk Adenya, diselimuti dan dielus-elus, uhuy. Tak lupa matiin komputer dan membuat suasana remang-remang.
Tak lama terdengar teriakan,
"Adeee, Boboooo!" Karena ternyata Hasan malah garuk-garuk dan Thoriq udah capek garukin punggungnya Hasan yang udah kayak parutan, glek.
Tak lama, ada teriakan
"Tangan Aa itaaai"
Akhirnya Hasanpun nangis karena dipaksa tidur, ia kembali minta si ummi melukin seperti biasa.
dan Thoriq balik badan, sambil bilang,
"Ah, pura-pura bobo ajah, ntar ade ikutan"
Tak lama terdengar dengkuran...
Ayo tebak siapa yang dengkur?
Yup Thoriq sodara-sodara...
Hasanpun melompat bermain komputer keras-keras, buka gorden dan berantakin mainan yang tadi udah diberesin Thoriq.
Mhhh... tapi tak ada dendam dari thoriq ketika bangun, Alhamdulillah...
Bangun ia langsung ke toilet untuk pipis, cuci muka dan tangan trus ngambil air minum dan nawarin,
"Ade, mau minum?"
"Pake gelas pooh atau pink?"
Adenya bakal teriak...
"Pooh!"
Tapi Thoriq ngambilin air ke gelas hijau, glek...
dah ah... gak ada habisnya cerita celoteh si Aa
insya allah disambung kalo sempet

Posted at 1/14/2005 8:07:19 pm by ummuthoriq
Permalink
| |
Wednesday, January 12, 2005 |
Subhanallah... Gak bisa ngomong lagi.. boro-boro mau ngeluarin puisi, hati benar-benar teriris. 
Posted at 1/12/2005 9:01:23 pm by ummuthoriq
Permalink
|